Wanted . . . .

Total Tayangan Halaman

Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sahabat Nabi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Juli 2012

Bilal bin Rabah: Suara Emas dari Ethiopia

Bilal bin Rabah: Suara Emas dari Ethiopia

Eramuslim.com | Media Islam Rujukan,
Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.

"Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu," demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.
 
"Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu dan mencium harum aroma tubuhmu," kata Bilal masih dalam mimpin-ya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.

Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Tak menunggu senja, hampir seluruh penduduk Madinah tahu, semalam Bilal bermimpi ketemu dengan nabi junjungannya.

Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu. Dan Bilal sama seperti mereka, diharu biru oleh kenangan dengan nabi tercinta.

Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib jika tiba waktunya. Padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal.

Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. "Marhaban ya Rasulullah," bisik salah seorang dari mereka.

Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad salallahu alaihi wasalam, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakamkan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, "Asyhadu anna Muhammadarrasulullah." Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. "Adzanlah wahai Bilal," perintah Abu Bakar. 

Dan Bilal menjawab perintah itu, "Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku."
"Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal," kata Abu Bakar.
"Maka biarkan aku memilih pilihanku," pinta Bilal.
"Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah," lanjut Bilal.
"Kalau demikian, terserah apa maumu," jawab Abu Bakar.

Di atas, adalah sepenggal kisah tentang Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat dekat Rasulullah salallahu alayhi wasalam. Seperti yang kita tahu, Bilal adalah seorang keturunan Afrika, Habasyah tepatnya. Kini Habasyah biasa kita sebut dengan Ethiopia.

Seperti penampilan orang Afrika pada umumnya, hitam, tinggi dan besar, begitulah Bilal. Pada mulanya, ia adalah budak seorang bangsawan Makkah, Umayyah bin Khalaf. Meski Bilal adalah lelaki dengan kulit hitam pekat, namun hatinya, insya Allah bak kapas yang tak bernoda. Itulah sebabnya, ia sangat mudah menerima hidayah saat Rasulullah berdakwah.

Meski ia sangat mudah menerima hidayah, ternyata ia menjadi salah seorang dari sekian banyak sahabat Rasulullah yang berjuang mempertahankan hidayahnya. Antara hidup dan mati, begitu kira-kira gambaran perjuangan Bilal bin Rabab.

Keislamannya, suatu hari diketahui oleh sang majikan. Sebagai ganjarannya, Bilal di siksa dengan berbagai cara. Sampai datang padanya Abu Bakar yang membebaskannya dengan sejumlah uang tebusan.

Bisa dikata, di antara para sahabat, Bilal bin Rabah termasuk orang yang pilih tanding dalam mempertahankan agamanya. Zurr bin Hubaisy, suatu ketika berkata, orang yang pertama kali menampakkan keislamannya adalah Rasulullah. Kemudian setelah beliau, ada Abu Bakar, Ammar bin Yasir dan keluarganya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad.

Selain Allah tentunya, Rasulullah dilindungi oleh paman beliau. Dan Abu Bakar dilindungi pula oleh sukunya. Dalam posisi sosial, orang paling lemah saat itu adalah Bilal. Ia seorang perantauan, budak belian pula, tak ada yang membela. Bilal, hidup sebatang kara. Tapi itu tidak membuatnya merasa lemah atau tak berdaya. Bilal telah mengangkat Allah sebagai penolong dan walinya, itu lebih cukup dari segalanya.

Derita yang ditanggung Bilal bukan alang kepalang. Umayyah bin Khalaf, sang majikan, tak berhenti hanya dengan menyiksa Bilal saja. Setelah puas hatinya menyiksa Bilal, Umayyah pun menyerahkan Bilal pada pemuda-pemuda kafir berandalan. Diarak berkeliling kota dengan berbagai siksaan sepanjang jalan. Tapi dengan tegarnya, Bilal mengucap, "Ahad, ahad," puluhan kali dari bibirnya yang mengeluarkan darah.

Bilal bin Rabah, meski dalam strata sosial posisinya sangat lemah, tapi tidak di mata Allah. Ada satu riwayat yang membukti-kan betapa Allah memberikan kedudukan yang mulai di sisi-Nya.

Suatu hari Rasulullah memanggil Bilal untuk menghadap. Rasulullah ingin mengetahui langsung, amal kebajikan apa yang menjadikan Bilal mendahului berjalan masuk surga ketimbang Rasulullah.

"Wahai Bilal, aku mendengar gemerisik langkahmu di depanku di dalam surga. Setiap malam aku mendengar gemerisikmu."

Dengan wajah tersipu tapi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya, Bilal menjawab pertanyaan Rasulullah. "Ya Rasulullah, setiap kali aku berhadats, aku langsung berwudhu dan shalat sunnah dua rakaat."

"Ya, dengan itu kamu mendahului aku," kata Rasulullah membenarkan. Subhanallah, demikian tinggi derajat Bilal bin Rabah di sisi Allah.
Meski demikian, hal itu tak menjadikan Bilal tinggi hati dan merasa lebih suci ketimbang yang lain. Dalam lubuk hati kecilnya, Bilal masih menganggap, bahwa ia adalah budak belian dari Habasya, Ethiopia. Tak kurang dan tak lebih.

Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya.

Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman, Rasulullah salallahu alaihi wasalam.

SUMBER : http://www.eramuslim.com/berita-bilal-bin-rabah-suara-emas-dari-ethiopia.html

Abu Bakar As Shiddiq RA

Abu Bakar As Shiddiq RA

Abu Bakar adalah khalifah pertama pengganti Nabi Muhammad SAW. Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Abi Kuhafah at-Tamimi. Abu Bakar berasal dari keluarga bangsawan Quraisy kaya dan merupakan pemeluk agama Islam ke dua setelah istri nabi Muhammad SAW yaitu Siti Khadijah.
Abu Bakar menjadi sahabat nabi yang sangat setia dan dikenal sebagai tokoh yang jujur, lurus, dan sangat dipercaya. Oleh karena itu beliau mendapat gelar “As Shiddiq” (yang dipercaya).
Ketika hijrah ke Madinah, Abu Bakar setia sekali menemani Nabi SAW, termasuk ketika bersembunyi di gua Sur. Ketika Nabi SAW uzur, beliau ditunjuk oleh nabi SAW menjadi imam shalat.
Pada awal perjuangan Islam, Abu Bakar sering mendermakan hartanya untuk kaum muslimin yang miskin dan untuk membebaskan budak yang disiksa oleh majikannya karena memeluk agama Islam, misalnya Bilal.
Perangai Abu Bakar RA sangat mulia, maka sangat pantas untuk diteladani oleh setiap muslim. Kemuliaan dan keteladanan Abu Bakar tidak hanya diakui oleh Rasulullah SAW atau para sahabat-sahabatnya. Dalam al Qur’an pun juga di kisahkan.
Kemuliaan dan keteladanan Abu Bakar yang dikisahkan dalam Al Qur’an diantaranya:
1. Pembenar Segala Berita nabi Muhammad SAW
Kita ketahui bahwa sahabat Nabi yang satu ini adalah orang yang selalu membenarkan apa yang diberitakan oleh nabi Muhammada SAW. Ketika orang lain meragukan sesuatu berita yang disampaikan Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu membenarkannya.
2. Orang yang paling taqwa setelah Nabi Muhammad SAW
Abu Bakar memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa oleh majikannya. Mereka disiksa hanya karena beriman kepada Allah SWT. Dengan dimerdekakannya, maka ke tujuh orang budak itu selamat dari siksaan majikan mereka. Dan yang terpenting adalah mereka dapat menyelamatkan keimanan mereka kepada Allah SWT.
3. Pendamping nabi di dalam Gua
Abu Bakar merupakan pendamping setia Nabi Muhammad SAW baik dalam suka dan duka ketika dikejar-kejar oleh Abu Jahal dan pasukannya.
4. Penolong Agama Allah SWT
Kaum Muslimin enggan untuk berangkat jihad dalam peperangan Tabuk yaitu untuk menolong agama Allah kecuali Abu Bakar. Abu Bakar sebagai pencerah suasana, menyadarkan kaum muslimin agar terhindar dari bisikan kaum munafik yang menyesatkan .
Akhirnya mereka menyadari kekeliruannya dan tumbuh semangatnya untuk berangkat ke medan perang, membela tegaknya agama Allah (menolong agama Allah).
1. Sahabat yang pemaaf
Abu Bakar pernah bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada Misthah, seorang kerabatnya sendiri yang miskin yang menuduk Aisyah berbuat serong
Tetapi Abu Bakar segera memaafkan Mitsthah dan mencabut sumpahnya seraya berkata”Ya Tuhan kami, kami pasti menginginkan ampunan-Mu dan kami akan memberi nafkah kembali kepada Misthah sebagaimana mestinya”
Selain Al Qur’an, dalam Hadits banyak keteladanan dari Abu Bakar yaitu:
  1. Kepercayaan nabi Muhammad SAW
  2. Sahabat yang paling kuat imannya
  3. Abu bakar bukan sembarang sahabat
  4. Penenteram hati Rasulullah SAW
  5. Sahabat yang pertama kali masuk surga
  6. Ahli surga
  7. Teladan bagi umat islam
    1. Sahabat paling Dermawan
    2. Sahabat paling pemaaf
    3. Sahabat paling penyantun
    4. Sahabat paling pemberani
Apa yang Dikatakan Rasullullah SAW tentang Abu Bakar RA                                                                                       
         Abu Bakar RA adalah orang dewasa pertama yang masuk islam, tetapi bukan itu saja, Rasullullah SAW juga             memujinya karena cara penerimaan ajakan Rasullullah SAW untuk memeluk islam. Tentang hal ini Beliau bersabda, "Tiada pernah aku mengajak seseorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan kecuali Abu Bakar. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun."                                  
        Abu Bakar RA juga sahabat Rasullullah SAW jauh sebelum Beliau mendakwahkan Islam. Selisih usianya yang hanya bertaut dua tahun lebih muda, dan kemuliaan budi pekerti Abu Bakar dibandingkan orang-orang Makkah saat itu, membuatnya dekat dan akrab dengan Rasullullah SAW. Bahkan Abu Bakar menjadikan sosok Nabi SAW sebagai cerminan dan teladan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tak heran begitu memeluk Islam, keimanan dan keteguhannya dalam menjaga agamanya tak diragukan lagi, bahkan Rasulullah SAW sendiripun memujinya. Beliau bersabda tentang dirinya "Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat, akan lebih berat keimanan Abu Bakar." (HR Iman Baihaqi, dalam Asy Syib)                                    
        Masih banyak lagi pujian Nabi SAW terhadap Abu Bakar, misalnya : Pemimpin jamaah di surga, Semua pintu surga akan memanggilnya untuk memasukinya, Orang pertama yang masuk surga dari umat Nabi SAW, dll.                                                                                           
 
Kegigihan Abu Bakar RA dalam Menjalankan dan Mendakwahkan Agamanya

SUMBER :  http://www.speedytaqwa.com/aboutislam/detail/15/40/abu-bakar-as-shiddiq-ra-.html


UMAR BIN KHATTAB RA

UMAR BIN KHATTAB RA

Umar bin Khattab, sebelum masuk agama Islam selalu memusuhi Nabi Muhammad SAW. Tetapi setelah memeluk agama Islam, ia menjadi sahabat Rasulullah SAW dan bahkan terpilih sebagai khalifah ke dua setelah Abu Bakar As-Shiddiq.
 
Umar merupakan seorang mujtahid dan salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Umar lahir pada tahun 581 M. Ia berasal dari suku Adi yang terpandang mulia dan mempunyai martabat tinggi.
 
Sejak menjadi pemuda, Umar dikenal sebagai orang yang pemberani. Saat Umar masuk Islam, banyak keluarganya dan tokoh-tokoh Arab lain yang masuk Islam. Sehingga jumlah kaum muslimin semakin banyak dan dakwah Islam tidak lagi dilakukan secara sembunyi sembunyi, tetapi disiarkan secara terang-terangan.. Ketegasan dan keberanian Umar merupakan kekuatan besar dalam pengembangan Islam.
 
Sebelum Umar masuk Islam, Umar adalah musuh Nabi SAW dan para pengikutnya. Ketika mengetahui bahwa adiknya yaitu bernama Fatimah dan suaminya memeluk Islam, Umar sangat kesal dan segera mendatangi adiknya dengan penuh emosi memukul Fatimah beserta suaminya yaitu pada saat Fatimah membaca Al Qur’an.
 
PERILAKU KHALIFAH UMAR RA
 
Sebuah prestasi yang besar yang dilakukan oleh Umar terutama dalam bidang politik. Banyak sifat keteladanan yang patut kita teladani. Keteladanan Umar diantaranya:
 
1. Sahabat yang paling ditakuti Syetan
Nabi Muhammad SAW bersabda” Hai Ibnu Khattab, demi Dzat yang diriku
dalam kekuasaan-Nya, tidaklah engkau berpapasan dengan setan di tengah jalan, kecuali ia menempuh jalan yang lain. (HR Bukhari Muslim)
 
2. Pereguk ilmu Rasulullah
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda; “Dalam suatu tidurku aku bermimpi diberi segelas susu, maka aku meminumnya hingga merasakan kesegaran mengalir ke sekujur tubuhku, kemudian sisanya kuberikan kepada Umar bin Khattab”. Seorang sahabat bertanya: “Apa takwil mimpi itu ya Rasulullah?. Jawab beliau: “Ilmu Pengetahuan” (HR Bukhari Muslim)
Oleh karena itu, maka Umar memang Al Faruq sebagai khalifah yang menguasai isi kitab Allah SWT secara benar.
 
3. Pencemburu pada setiap kebaikan
Rasulullah SAW bersabda:’ Pada suatu tidurku aku bermimpi berada di surga. Tiba-tiba ada seorang perempuan sedang berwudhu di samping sebuah gedung. Maka aku bertanya: Gedung siapa ini? Jawabnya: Gedung ‘Umar bin Khattab, sehingga aku teringat akan kecemburuan Umar (pada setiap kebaikan). Umar menangis ketika mendengar mimpi Rasulullah itu seraya berkata: “Pantaskah aku cemburu kepadamu, ya Rasulullah?” (HR Bukhari Muslim).
 
4. Penegak agama Allah
Umar bin Khattab menegakkan agama ialah tentang pentingnya menegakkan shalat lima waktu, menuntut ilmu dan pentingnya mengendalikan hawa nafsu kepada kaum muslimin dan terlebih kepada seluruh pegawai pemerintahannya
Para pegawainya dinasehati dengan nasehat: Sesungguhnya urusan kalian yang paling penting ialah shalat. Maka barang siapa menjaganya dengan baik, niscaya terjagalah agamanya.
 
5. Pemimpin pembaharu
Selama sepuluh tahun kekhalifahannya, Umar banyak sekali mempelopori praktik-praktik kehidupan kaum muslimin dalam bermasyarakat dan bernegara yang sebelumnya tidak pernah dipraktekkan. Oleh Umar dikembangkan dan dipelopori sesuai dengan pembentukan masyarakat dan Negara yang Islami yang berlandaskan Syari’at Islam.
 
6. Penegak kebenaran
Semenjak masuk Islam, Umar sangat tegas dalam memilih dan melakukan perkara hak. Ditinggalkannya jauh-jauh perkara yang bathil dan tidak pernah mau bersentuhan kecuali dengan perkara yang hak. Sikap dan perbuatannya semuanya hak atau benar.
Hukum ditegakkan ditengah masyarakat tanpa pandang bulu, sipapun orangnya dan jabatannya. Hal ini telah diteladankan oleh Umar bin Khattab. Beliau tak segan segan menjatuhkan sanksi hukum kepada siapapun yang diketahui melanggar. Bahkan putranya sendiri sekalipun tetap dihukum karena melanggar aturan Islam.
 
7. Pemimpin yang kuat
Setelah kekhalifahan dipimpin oleh Umar, kejayaan islam berkembang pesat ke penjuru dunia. Damaskus, Basrah, Urdun dan Kufah ditundukkan.Yazdajr, Jandisabur, Mesir sampai Azerbijan, Masabazan, Sajastan dan Ashiban tunduk kepada panji Islam.
Persi dan Rumawi yang waktu itu menjadi Negara adi kuasa juga tunduk dalam kekuasaan Umar. Dua pertiga belahan dunia, nyaris di bawah kekuasaan Umar. Dengan jasa yang luar biasa ini, Umar dijuluki oleh kaum muslimin “Amirul Mukminin” artinya pemimpin orang-orang yang beriman.
 

Sabtu, 07 April 2012

Kisah Al -Walid Al-Mughirah

 Pada suatu hari Rasulullah SAW di datangi oleh musuh bebuyutanya yang bernama Al -Walid Al-Mughirah.
Al -Walid Al-Mughirah berkata kepada beliau : "hai Muhammad, bacakan oleh Al-quran kepadaku ".
kemudian beliaupun membacak surat an-nahl : 90 yang berbunyi : " Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan , memberi kepada kaum kerabatdan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran "

Belum lagi bacaan ayat itu selesai  di bacakan oleh Rasulullah SAW, Al -Walid Al-Mughirah meminta beliau mengulangi kembali pembacaan ayat tersebut karena merasa kagum dan tskjub dengan keagungan bahasa dan kesucian. tak kuasa menahan gemuruh kekaguman atas ayat-ayat Allah SWT yang mulia ini, maka Al-walid pun kembali berkata, "Demi Allah, sesungguhnya Al-Quran ini sangatlah manis. Didalamnya sarat dengan keindahan,ia bak sebuah pohon yang daun lebat dan berbuah. Sungguh Al-Quran ini tidak diucapkan oleh manusia". (H.R Ibnu jarir ath-tharbari dn al-baihaqi). Sepenggal kisah ini dapat kita temukan di kitab " Minhajul Muslim "

Minggu, 08 Januari 2012

Kekaya'an Umar bin Khattab

Seberapa Kaya Umar bin Khattab?

Selama ini, kita hanya mengetahui bahwa hanya ada dua sahabat Rasul yang benar-benar sangat kaya, yaitu Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan. Namun sebenarnya, sejarah juga sedikit banyak seperti “mengabaikan” kekayaan yang dipunyai oleh sahabat-sahabat yang lain.
Ingat perkataan Umar bin Khattab bahwa ia tak pernah bisa mengalahkan amal sholeh Abu Bakar? Itu artinya, siapapun tak bisa menandingi jumlah sedekah dan infaqnya Abu Bakar As-Shiddiq.
Lantas, bagaimana dengan kekayaan Umar bin Khattab sendiri? Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.
Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan.
Umar ra memiliki 70.000 properti. Umar ra selalu menganjurkan kepada para pejabatnya untuk tidak menghabiskan gajinya untuk dikonsumsi. Melainkan disisakan untuk membeli properti. Agar uang mereka tidak habis hanya untuk dimakan.
Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.
Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah! Semoga kita bisa meneladani Umar bin Khattab.  (sa/berbagaisumber/Fikih Ekonomi Umar bin Al-Khattab/khalifa)
ERAMUSLIM > TAHUKAH ANDA
http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/seberapa-kaya-umar-bin-khattab.htm
Publikasi: Rabu, 09/12/2009 07:34 WIB